Rindu Kampung Halaman


Hatiku masih terasa kosong hari ini. Ini sudah berlangsung selama beberapa hari, dan saya tetap saja tidak tahu alasannya. Pulang kerja, atmosfir di rumah terasa hampa. Di rumah besar ini, hanya tinggal saya seorang diri. Tawa yang terdengar dari kejauhan mengingatkanku akan kenangan yang sudah lama kulupakan.
Makanan terasa hambar. Lauk-pauk yang suka kuhangatkan kembali supaya tetap enak ketika dimakan sekarang malah terasa tajam-menusuk pada lidahku.
Membaca SMS yang dikirim Herman untuk menanyakan keberadaanku, saya membalasnya degan cepat. Selama waktuku di Jakarta, dia telah menjadi teman terbaik dan terdekatku, dan walaupun hanya belakangan ini kami menjadi lebih dari teman, kami memiliki hubungan yang sangat baik, dan saya sudah lama ingin mengenalkannya kepada orangtuaku.
Akan tetapi, sekarang bahkan Herman pun tidak dapat mengembalikan semangatku yang telah hilang.
Kadang aku memang memiliki suasana hati yang susah diprediksi, tetapi kali ini sudah agak lebay sih hatiku ini.
Oh iya, aku baru teringat. Besok adalah ulang tahun Bunda! Kok bisa lupa ya?! Mau berikan hadiah apa…? Pantesan aku hari-hari ini galau, ternyata hati kecilku sudah ingat ulang tahun Bunda, dan sudah mulai merindukan keluarga.
Ah, memang sudah lama aku tidak melihat mereka. Apakah mereka baik-baik saja ya? Ketika aku memutuskan untuk bekerja di Jakarta setelah kematian suamiku, aku sedang sakit hati dan marah terhadap Tuhan dan juga keluargaku. Aneh, bukan? Kematian suamiku memangnya ada hubungan apa sama mereka?
Itu juga belum saya mengerti sampai sekarangpun. Tapi, yang saya tahu sekarang, adalah bahwa saya sudah tidak marah lagi. Saya merindukan mereka. Sungguh.
Mungkin sudah sampai waktunya untuk pulang. Sudah terlalu lama saya tidak mendengar suara mereka, melihat senyuman mereka yang tetap saja terdapat pada muka mereka bahkan jika aku telah mengecewakan mereka.

Aku akan pulang.
SaveSave

Comments

Popular posts from this blog

Akhirnya...

Membuat Keputusan