Posts

Akhirnya...

Image
Akhirnya, datang juga hari yang telah ditunggu-tunggu dan juga ditakuti. Hari ini, saya akan kembali ke halaman kampungku yang sudah lama tak kulihat. Udara yang bersih dan jernih, langit biru yang tidak tertutup oleh bangun-bangunan tinggi—saya rindu. Muka-muka yang sudah terlalu lama tidak muncul di hadapanku, muka-muka yang sering menaruh senyum pada pipiku dan kehangatan dalam dadaku. Ayah, Bunda, Rusmi merindukan kalian. Apa kalian juga merindukan Rusmi? Apa gosip-gosip tersebut sudah kalian dengar, dan kalian sudah tidak lagi menyayangi Rusmi? Rusmi janji kepada Ayah, Bunda, Rusmi pasti bukan orang yang seperti dibilang orang lain. Ayah, Bunda percaya Rusmi kan? Semua yang kalian ajarkan ke Rusmi, satupun tidak Rusmi lupakan. Jadi, jangan khawatir, Rusmi masih anak baik Ayah, Bunda kok. Sekarang saya baru saja sampai rumah. Teman-temanku mengadakan pesta pemisahan untukku. Walaupun saya gembira akan kembali ke rumah asliku, kembali tinggal bersama Ayah dan Bunda, musta...

Membuat Keputusan

Image
Apakah orangtuaku akan menerimaku kembali? Bagaimana jika mereka sudah terlalu kecewa denganku? Jika aku dalam posisi mereka, aku juga tidak akan mengampuni diriku sendiri, karena hal yang telah kulakukan ke mereka sudah terlalu kejam, lebih lagi terhadap orangtua yang telah membesarkanku dan memberikanku kasih sayang yang berlebih-lebihan, meninggalkan mereka begitu saja tanpa penjelasan ataupun surat selama waktuku di sini, ini memang sudah keterlaluan. Tetapi, itu bukanlah cara pikirku pada awalnya. Ketika aku baru sampai Jakarta, aku masih marah dan kecewa. Sebuah kehidupan yang begitu sempurna, seorang suami yang begitu mengasihiku, semuanya hilang dalam sekejap. Mengapa Tuhan begitu kejam terhadapku? Dan mengapa keluargaku tidak bisa mengembalikan suamiku kepadaku? Mereka sudah bilang akan menjadi tempat perlindunganku, dan akan membantuku dalam hal apapun. Tetapi mereka telah bohong, mereka tidak menepati janji mereka! Jadi saya marah dan kecewa terhadap semua orang dan mem...

Rindu Kampung Halaman

Image
Hatiku masih terasa kosong hari ini. Ini sudah berlangsung selama beberapa hari, dan saya tetap saja tidak tahu alasannya. Pulang kerja, atmosfir di rumah terasa hampa. Di rumah besar ini, hanya tinggal saya seorang diri. Tawa yang terdengar dari kejauhan mengingatkanku akan kenangan yang sudah lama kulupakan. Makanan terasa hambar. Lauk-pauk yang suka kuhangatkan kembali supaya tetap enak ketika dimakan sekarang malah terasa tajam-menusuk pada lidahku. Membaca SMS yang dikirim Herman untuk menanyakan keberadaanku, saya membalasnya degan cepat. Selama waktuku di Jakarta, dia telah menjadi teman terbaik dan terdekatku, dan walaupun hanya belakangan ini kami menjadi lebih dari teman, kami memiliki hubungan yang sangat baik, dan saya sudah lama ingin mengenalkannya kepada orangtuaku. Akan tetapi, sekarang bahkan Herman pun tidak dapat mengembalikan semangatku yang telah hilang. Kadang aku memang memiliki suasana hati yang susah diprediksi, tetapi kali ini sudah agak lebay s...