Membuat Keputusan
Apakah orangtuaku akan menerimaku kembali? Bagaimana jika
mereka sudah terlalu kecewa denganku? Jika aku dalam posisi mereka, aku juga
tidak akan mengampuni diriku sendiri, karena hal yang telah kulakukan ke mereka
sudah terlalu kejam, lebih lagi terhadap orangtua yang telah membesarkanku dan
memberikanku kasih sayang yang berlebih-lebihan, meninggalkan mereka begitu
saja tanpa penjelasan ataupun surat selama waktuku di sini, ini memang sudah
keterlaluan.
Tetapi, itu bukanlah cara pikirku pada awalnya. Ketika aku
baru sampai Jakarta, aku masih marah dan kecewa. Sebuah kehidupan yang begitu
sempurna, seorang suami yang begitu mengasihiku, semuanya hilang dalam sekejap.
Mengapa Tuhan begitu kejam terhadapku? Dan mengapa keluargaku tidak bisa
mengembalikan suamiku kepadaku? Mereka sudah bilang akan menjadi tempat
perlindunganku, dan akan membantuku dalam hal apapun. Tetapi mereka telah
bohong, mereka tidak menepati janji mereka! Jadi saya marah dan kecewa terhadap
semua orang dan memutuskan untuk meninggalkan halaman kampungku untuk mencari
kehidupan yang baru.
Pada awalnya, Jakarta merupakan sebuah tempat pelarianku,
dan saya tidak ingin siapapun untuk menemukanku, jadi saya tidak pernah
mengirim surat kepada siapapun. Saya ingin membangun sebuah kehidupan yang
baru, sebuah kehidupan yang lebih baik seratus kali lipat dibandingkan dengan
kehidupan lamaku! Saya akan membuktikan kepada mereka, bahwa tanpa mereka pun,
saya bisa hidup dengan baik dan tentram, bahkan hidup dengan bahagia! Jika mereka
tidak akan membantuku, saya akan membantu diriku sendiri! Saya tidak akan
mengandalkan siapapun selain diriku sendiri, karena mengandalkan orang lain
hanya akan membawa kesakitan hati pada diriku.
Akan tetapi, seiring waktu, saya telah menjadi lelah dengan
membangun kehidupanku sendiri. Menjalani hidup tanpa seorang yang dapat
diandalkan ketika letih ataupun sedih sungguh sebuah hal yang susah untuk
dilakukan dengan baik. Aku mulai merasakan kehampaan dan kesunyian yang hanya
bisa diperbaiki oleh keluargaku. Walaupun aku sudah mulai menyesali
perbuatanku--sudah terlambat. Aku memiliki rasa harga diri yang besar, jadi
susah bagiku untuk menundukkan kepala untuk meminta maaf kepada siapapun,
bahkan jika mereka adalah keluargaku yang paling dekat.
Namun, sekarang, rasa hampa tersebut telah menjadi begitu
menonjol, dan sudah mulai mempengaruhi hidupku sehingga susah bagiku untuk
menjalani hari-hariku tanpa merasakan kesedihan.
Aku telah membuat keputusan. Aku akan pulang, dan aku akan memberitahu
orangtuaku sekarang juga.
Comments
Post a Comment